Luxury Crime, Karya Anak Bangsa yang Akhirnya jadi Maskot




ArtParis @Grand Palais 2010, Prancis tempat yang menjadi ajang pameran seni modern dan seni kontemporer telah menempatkan karya seniman Indonesia menjadi maskotnya disana. Karya Agus Suwage yang bertitle Luxury Crime merupakan karya lokal yang akhirnya jadi internasional dan juga fenomenal terpilih menjadi karya kontemporer Indonesia terbaik.

Sebanyak 20 seniman Indonesia berpartisipasi pada pameran seni moderen dan kontemporer di Grand Palais, Paris 17-22 Maret 2010. Karya Agus Suwage jadi maskot.

Para seniman yang dikoordinir oleh kolektor dan penggemar seni Deddy Kusuma menampilkan berbagai kreasi seni moderen dan kontemporer dalam bentuk lukisan, ukiran, instalasi, rakitan dan berbagai rupa lainnya.

Indonesia merupakan satu dari empat negara yang secara khusus diundang untuk menampilkan koleksi seninya dan menempati salah satu stan utama dan terbesar di Grand Palais, tempat pameran prestisius di daerah champs-ellysee di jantung kota Paris.

"Selebihnya ruang pameran yang cukup luas di Grand Palais tersebut diisi oleh galeri seni swasta dari seluruh dunia," tutur Gita Loka Murti dari Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Paris kepada detikcom hari ini.

Dengan tema The Grass Looks Greener Where You Water It, seniman Indonesia menempatkan diri sebagai pemain baru yang patut diperhitungkan dalam konteks seni moderen dan kontemporer di Asia.

Karya Agus Suwage berjudul Luxury Crime dengan dimensi 124 X 77 X 52 cm, yang menampilkan sosok tengkorak berwarna emas berendam di bak stainless steel berisi beras, menjadi maskot pameran Indonesia di Grand Palais.

Selain Agus Suwage, seniman Indonesia yang berpartisipasi pada pameran ini adalah Astari, Ay Tjoe Christine, Budi Kustarto, Entang Wiharso, FX Harsono, I Nyoman Masriadi, Handiwirman Saputra, Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, Yunizar, Yusra Martunus, Melati Suryodarmo, M. Irfan, Pintor Sirait, Putu Sutawijaya, Heri Dono, Ronald Manullang, Rudi Mantofani, dan Suraji.

Beberapa karya seni yang ditampilkan, khusus dibuat untuk konsumsi pengunjung event tersebut.

"Stan Indonesia sangat diminati pengunjung yang terpaksa mengikuti antrian panjang untuk masuk ke area pameran tersebut," ujar Gita.

Seni moderen dan kontemporer Indonesia termasuk yang dicari para penikmat seni karena dianggap berkualitas tinggi dengan harga tidak terlalu mahal.