Inilah Kebiasaan Manusia modren yang Dilakukan Manusai Purba




INILAH.COM, Jakarta- Manusia kuno Zaman Batu sering dipandang sebagai karnivora yang menggerogoti daging di dekat api. Namun, penelitian terbaru menunjukkan manusia goa ini juga melakukan diet.

Mereka telah mengkonsumsi roti setidaknya 30 ribu tahun lalu.

Makhluk pemburu di masa prasejarah ini tidak hanya mengandalkan binatang sebagai objek makanan, tetapi juga makanan nabati yang diproses.

Hasil ini didapat dari pengamatan menggunakan mikroskop sangat kuat dari jejak amilum pada batu gerinda putih dari situs arkeologi di Italia, Rusia dan Republik Ceko.

Ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa biji-bijian telah diabaikan manusia Zaman Batu karena sulit diproses.

Padahal, manusia Paleolitikum di Eropa mengatur pola makan lewat pencampuran lemak dan protein hewan dengan komsumsi unsur nabati.

Dr Revedin dari Italian Institute of Prehistory and Early History, Florence, mengatakan "Penemuan residu gandum dan nabati di batu penggilingan pada tiga lokasi menunjukkan adanya pengolahan makanan berserat, produk tepung misalnya. Ini tampak umum dan meluas di seluruh Eropa sekitar 30 ribu tahun lalu."

Pengolahan makanan orang primitif ini menegaskan bahwa diet menjadi salah satu hal umum bagi mereka.

"Ini seperti roti tanpa rasa yang dibentuk hanya dengan air dan tepung," ujar Laura Longo, salah satu anggota tim penelitian itu.
Keberadaan makanan selain daging di pola konsumsi masyarakat lampau sangat mengagumkan.

Ini terkait evolusi manusia menyangkut teknik rumit dan manipulasi proses makanan yang mereka lakukan.

Ilmuwan mengatakan, "Populasi Paleolitikum di Eropa secara umum didominasi karnivora karena jumlah tanaman yang sangat terbatas. Namun, kami menemukan bukti adanya proses pengolahan makanan. Ini sangat mengagumkan."

Pengolahan tepung melibatkan proses berupa pengupasan umbi, pengeringan dan penumbukan dengan alat khusus. Selanjutnya, tepung dimasak untuk mendapatkan makanan yang mudah dicerna.

"Studi tentang pola makan mereka ini menunjukkan adanya proses memasak karena pemahaman soal buruknya makanan mentah yaitu tidak menyediakan cukup kalori."